Anggota Dewan Komisioner

 

​​​​​​​​​Anggota Dewan Komisioner Periode 2017 - 2022

Jejak karier Wimboh Santoso dimulai sebagai pengawas bank di Bank Indonesia, usai ia menamatkan pendidikan sarjananya di Universitas Negeri Surakarta pada 1983. Wimboh melanjutkan studinya di University of Illinois dan meraih gelar master di bidang Business Administration di tahun 1993. Tak sampai di situ, ia juga berhasil membawa pulang gelar Ph.D di bidang Banking Finance dari Loughborough University pada 1999.

Pengabdian pria kelahiran Boyolali, Jawa Tengah 15 Maret 1957 terhadap dunia perbankan Tanah Air berlanjut dengan menjabat sebagai Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan di Bank Indonesia pada 2010 hingga 2012. Ia juga pernah mengemban tugas sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia di New York dan Direktur Eksekutif International Monetary Fund pada tahun 2013. Sejak 2015, Wimboh menduduki kursi Komisaris Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan di tahun 2016 ia menjadi Direktur Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia.

Delegasi Bank Indonesia di pertemuan G20, Financial Stability Board dan The Bassel Comittee on Banking Supervision di tahun 2010, serta Co-Chair on Asean Banking Integration Framework tahun 2014 ini mengantongi sejumlah sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Profesi Perbankan (LSPP). Di antaranya Kompetensi Manajemen Risiko Level 1 dan 2, Facing Global Challenges for Better Economic Growth in 2017, serta Managing Compliance Risk While Controlling Cost.

Hingga kini, Wimboh yang masih aktif sebagai pengajar di beberapa universitas ternama di Indonesia, baik untuk program Sarjana maupun Pasca Sarjana ini juga telah menorehkan sederet prestasi dan karya tulis yang layak diperhitungkan. Antara lain E¬ffective Financial System Stability Framework dan The Impact of Global liquidity on Financial Landscapes and risk in the ASEAN-5 Countries di tahun 2007, Risk Profile of Households and the Impact on Financial Stability di tahun 2009, dan masih banyak lainnya.

Pada 1985, Nurhaida berhasil meraih gelar Insinyur Bidang Kimia Tekstil dari Institut Teknologi Tekstil Bandung. Sepuluh tahun setelahnya, gelar Master of Business Administration yang diperoleh dari Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat, resmi berada di belakang namanya.

Wanita kelahiran Padang Panjang, 27 Juni 1959, ini mengawali karier di Kementrian Keuangan pada 1989 lalu. Sejumlah posisi ia duduki, seperti Staf Ahli Bidang Kebijakan dan Regulasi Jasa Keuangan dan Pasar Modal Kementerian Keuangan RI 2011, Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan periode 2011-2012, dan Anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan masa jabatan 2012-2017.

Nurhaida memiliki keahlian yang diakui lembaga bertaraf internasional. Di antaranya Leadership Development Programme dari Center for Creative Leadership, Colorado Spring, USA tahun 2014 dan 2016 serta International Institute on the Inspection and Oversight of Market Intermediaries dari US Securities and Exchange Commission, Washington DC tahun 2010.

Sejumlah penghargaan pun berhasil ia raih, seperti 71 Indonesian Inspiring Women dari Obsession Media Group tahun 2016, Thomas Mural Medallion dari Indiana University tahun 2015, dan 99 Most Powerful Women dari Globe Asia tahun 2015. Selain itu, ia juga pernah menjadi pembicara di beberapa acara internasional macam Credit Suisse Securities di Hongkong, 7 April 2016, Deutsche Bank di Singapura, 21-22 Februari 2016, ASIFMA di Hongkong, 2-3 Desember 2015, Financial Times di Malaysia, 22 Oktober 2015, Citi Group di Hongkong, 8 September 2015, dan Asia Pacific Financial Forum di Hongkong, 27 Januari 2015.

Heru Kristiyana lahir di Salatiga, 5 September 1956. Ia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro tahun 1981. Pada tahun 2000, Heru meneruskan pendidikan S2-nya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IPWI.

Heru pernah mengemban tugas sebagai Kepala Departemen Pengawasan Bank 3 di Bank Indonesia pada 2011 lalu. Berkat kepiawaiannya menjalankan amanat tersebut, ia pun dipercaya menempati posisi Deputi Komisioner Pengawas Perbankan 4 Otoritas Jasa Keuangan untuk masa jabatan 2013-2016.

Sejumlah sertifikat berhasil ia kantongi. Di antaranya Program Eksekutif Direksi Sertifikasi Manajemen Risiko dari Badan Sertifikasi Manajemen Risiko 2007, Sertifikasi Manajemen Risiko Level 1 dari Badan Sertifikasi Manajemen Risiko 2016, dan Sertifikasi Manajemen Risiko Level 2 dari Badan Sertifikasi Manajemen Risiko 2016.

Menyandang gelar Master Manajemen Keuangan, Universitas Pelita Harapan, pria kelahiran Jakarta, 21 Februari 1966 ini pernah memimpin PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia selama tiga tahun sebagai direktur utama sebelum ditunjuk sebagai Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Jakarta hingga 2015.

Semasa kariernya, Sarjana Pertanian Universitas Padjajaran 1990 ini pernah menuju Washington D.C., Amerika Serikat untuk acara The Development and Regulation of Securities Markets International Institute pada 2007 dan mampir ke Jepang untuk mengikuti Clearing and Settlement, Ministry of Finance Republik Indonesia, JICA Tokyo Stock Exchange pada 1997.

Tak hanya itu, Hoesen juga terlibat dalam Global Custody and Portofolio Administration, State Street KDEI pada 1996, Managing Change di PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia pada 2005 dan turut serta dalam gelaran bertema Permasalahan Saham Transaksi Saham di Pasar Modal “Gadai Saham-saham Transaksi Repo Pinjam Meminjam Saham”, Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia pada 2007.

Sebelum menjadi Anggota Dewan Komisioner OJK, Hoesen memimpin PT Danareksa sebagai direktur selama dua tahun terakhir.

Riswinandi lahir di Jakarta, 12 September 1957. Peraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Trisakti pada 1984 ini mengawali kariernya sebagai Vice President HRG, PT Bank Niaga Tbk selama 12 tahun. Pada tahun 1999, ia bergabung dengan Badan Penyehatan Perbankan Nasional sebagai Senior Vice President-Loan Work Out Division Head.

Titian kariernya berlanjut di tahun 2001 ketika Riswinandi dipercaya menjadi Direktur PT Bank Danamon Indonesia. Tiga tahun berselang, ia menjadi Komisaris PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero). Rentang tahun 2010 hingga 2015, ia menduduki posisi sebagai Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sejak tahun 2015, Riswinandi menjadi Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) dan sebagai Komisaris pada PT PEFINDO Biro Kredit.

Sejumlah sertifikat pernah didapat oleh pria yang pernah menjabat Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (PERBANAS) di tahun 2016 ini, di antaranya Enhancing The Power of Enterprise Risk Management in Creating a Sound Bank and Financial Risk Integration di tahun 2016, Key Risk management challenge in 2015, Getting ready for uncertainty in regulation and market environment, recipes to win competition tahun 2013, dan Optimizing Company Value through BCM & ERM tahun 2009 dari Banker Association for Risk Management.

Anggota badan pengawas Ikatan Bankir Indonesia (IBI) ini juga memperoleh sertifikat lain seperti Making Innovation Happen dari London Business School tahun 2014, Transaction Banking Seminar dari Deutsche Bank tahun 2013, Asia Pacific Risk Management Conference tahun 2011 dari Enterprise Risk Management Academy (ERMA), Global Strategic Management Program tahun 2011 dan Leading Change and Organizational Renewal Program tahun 2009 dari Harvard Business School, High Impact Leadership dari Columbia University Graduate School of Business tahun 2010, Achieving Strategy through Business Process Change dari Cranfield School of Management tahun 2008, Corporate Risk Management Refresher dari ABN Bank AMRO tahun 2008, serta Executive Risk Management Certification Programme dari Badan Sertifikasi Manajemen Risiko di tahun 2006.

Lahir di Banyuwangi tahun 1966, lulusan sarjana Universitas Airlangga 1988 ini mengawali karier sebagai Officer Development Program Bank Bali selama dua tahun sebelum menjadi Kepala Seksi PT Bank Private Develop Finance Company of Indonesia hingga tahun 1995.

Pada tahun 2000, Ahmad resmi menyandang gelar Master Business Administration-Finance, University of Illinois. Setelah mendapat gelar tersebut, peserta berpredikat terbaik 3 PKBI I 2002 ini ditugaskan di Grup Pengaturan, Perencanaan dan Pelaporan Keuangan Bank Indonesia serta dipercaya menjadi Anggota Dewan Pengawas Dana Pensiun Bank Indonesia (DAPENBI) pada 2014.

Di tahun yang sama, Ahmad juga membekali dirinya dengan serentet pengalaman seperti keterlibatan dalam The 6th SEACEN Intermediate Leadership Course: Leadership in Times of Uncertainty, The Seacen Center and BIS (Bank for International Settlements) pada 2012,  Manajemen Umum Dana Pensiun (MUDP), Cost Accounting and Performace Measurement, Deutsche Bundesbank di Frankfurt, dan termasuk dalam Chartered Accountant, Ikatan Akuntan Indonesia pada 2014.

Sederet pengalaman tersebut dilengkapi dengan keterlibatannya menjadi Anggota Dewan Pengarah Komite Kebijakan Akuntansi Keuangan BI di tahun 2013, Pembina Yasporbi di tahun 2014 dan turut serta dalam Pelatihan Manajemen Pengawasan Dana Pensiun Angkatan XXV yang membuatnya kapabel sebagai Kepala Group Akuntansi Pajak di tahun 2016. Setahun menjabat, Ahmad lalu ditunjuk sebagai Direktur Departemen Keuangan, Bank Indonesia. Posisi terakhir Ahmad di Bank Indonesia adalah Direktur Eksekutif yang menjabat Staf Ahli Dewan Gubernur BI Bidang Keuangan

Memilih Jurusan Akuntansi, Universtas Diponegoro, Tirta Segara menguatkan pemahamannya tentang keuangan dengan merampungkan gelar Master Business-Finance and Investment, The George Washington University pada 1994. Setahun setelahnya, Tirta memulai kariernya sebagai Investment Banking, Ficorinvest Bank di Jakarta.

Pada 2001, ia dipercaya menjadi Advisor-SEA VG Office, International Monetary Fund sebelum berkiprah di Bank Indonesia. Mengabdikan diri hampir satu dekade, pria kelahiran Semarang, 6 Juli 1963 ini sempat menjabat sebagai Wakil Sekretariat Jenderal Ikatan Pegawai di bank sentral milik Indonesia itu.

Pada 2014, Lulusan Terbaik Sekolah Staf Pimpinan Bank Indonesia (SESPIBI) Angkatan XXIX ini diangkat sebagai Kepala Departemen Komunikasi, Bank Indonesia. Semasa menjabat, Tirta cukup produktif dalam memproduksi penelitian atau buku seperti ‘Memperkuat Kerangka Kebijakan Moneter’, dan ‘Jaga Stabilitas, Dukung Pemulihan Ekonomi’.

Semasa di Bank Indonesia, Tirta juga rajin memberi Diklat Lanjutan I (Pembekalan), Outdoor Mgt Development (2000) dan Diklat Lanjutan II, Outward Bound pada 2005.

Mardiasmo lahir di Solo, Jawa Tengah, 10 Mei 1958. Ia menyelesaikan pendidikan jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada pada 1981, magister pada University of Bridgeport, Connecticut, Amerika Serikat, pada 1989 dan Doktor School of Public Policy, University of Birmingham Inggris pada 1999.

Pada 10 Desember 2010, Mardiasmo terpilih menjadi Ketua Dewan Pengurus Nasional Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) periode 2010-2014 dalam Kongres XI IAI di Jakarta. Di sektor publik, Mardiasmo pernah menyampaikan keinginannya agar akuntan dapat mengawal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dari perencanaan hingga pelaporan, sehingga APBN benar- benar sampai ke tujuan, melalui pembangunan.

Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) itu pun pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan, di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 2010.

Pada 28 Jumi 2012, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan mengangkat Mardiasmo sebagai Komisaris Utama Jasa Rahaja berdasarkan Keputusan Pemegang Saham Perusahaan di Luar Rapat Umum Pemegang Saham, tentang Pengangkatan Anggota-Anggota Dewan Komisaris Perusahaan Perseroan.

Dan pada 27 Oktober 2014, Presiden Joko Widodo menunjuk Mardiasmo sebagai Wakil Menteri Keuangan saat pelantikan menteri Kabinet Kerja 2014-2019. Mardiasmo menggantikan Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro pada Kabinet Indonesia Bersatu II era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 2009-2014.

Mirza Adityaswara, lahir di Surabaya pada 1965. Gelar Sarjana Ekonomi diraih dari Universitas Indonesia, kemudian Mirza memperoleh gelar Master of Applied Finance dari Macquarie University, Sydney, Australia.

Beliau mengawali karir sebagai Dealer di Bank Sumitomo Niaga pada tahun 1989. Sejak tahun 2002 hingga Oktober 2005, Beliau menjabat sebagai Director, Head of Securities Trading & Research, Bahana Sekuritas, kemudian pada November ditahun yang sama beliau diminta menjadi Director, Head of Equity Research & Bank Analysis di Credit Suisse Securities Indonesia. Selama kurun waktu 2008 – 2010, Mirza bertugas sebagai Managing Director, Head of Capital Market, Mandiri Sekuritas, sekaligus sebagai Kepala Ekonom Bank Mandiri Group.

Sebelum diangkat sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Beliau menjabat sebagai Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan sejak April 2012 ditugaskan sebagai Kepala Eksekutif LPS sekaligus Dewan Komisioner. Selanjutnya, sesuai dengan Keputusan Presiden RI No.113/P Tahun 2013 tanggal 30 September 2013, diambil sumpahnya sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia pada tanggal 3 Oktober 2013 untuk periode 2013 - 2014.

Jabatan tersebut diperpanjang berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 62/P Tahun 2014, Mirza Adityaswara ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia untuk masa jabatan selama 5 (lima) tahun.