Workshop III Pilot Project Indonesia First Movers on Sustainable Banking Bulan Juni 2016

Workshop ini dilaksanakan dalam rangka rangkaian workshop lanjutan yang merupakan workshop bagi Pilot Project Indonesia First Movers on Sustainable Banking. Tema workshop III ini adalah "Enivonmental, Social and Governance (ESG) Master Class on Palm Oil Sector". Pelaksanaan workshop ini diselenggarakan berkat kerjasama OJK dengan WWF. Workshop ini dihadiri oleh 31 peserta yang meliputi 23 orang perbankan, 8 orang pengawas perbankan otoritas jasa keuangan. Workshop ini diselenggarakan pada tanggal 30 Mei- 2 Juni 2016. Berikut ini merupakan remaks penyelenggaraan workshop tersebut:

Hari Pertama: 30 Mei 2016

  • Materi 1: Deri Ridhanif, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit- Program Pemerintah untuk pembiayaan petani sawit: Replanting dan Penanganan Kebakaran Hutan
  • Materi 2: Irwan Gunawan, Deputi Direktur Program Market Transforming Bidang Pertanian dan Perikanan, WWF Indonesia- Isu Utama Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) dalam Sektor Kelapa Sawit
  • Materi 3 dan 4: Putra Agung, Manajer Program Kelapa Sawit Berkelanjutan WWF Indonesia- Cara Praktek yang Baik Untuk Merespon Isu Utama Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) dalam Sektor Kelapa Sawit
  • Materi 5: Nanda Ismael, Finance & Administration, RSPO Indonesia- Implementasi dan Tantangan RSPO Indonesia
  • Sesi Diskusi Interaktif – Sharing Session I
  • Materi 6: Insan Syafaat, Sustainability and Strategic Engangement Stakeholder SMART- SMART Innovative Smallholders Financing Program
  • Materi 7: Margaretha Nurunnisa, Smallholder Engagement Officer WWF Indonesia- Pelajaran dan Studi Kasus WWF Smalholders Certification Program
  • Sesi Diskusi Interaktif – Sharing Session II

Review


Hari Kedua: 31 Mei 2016 (Kunjungan ke Perkebunan kelapa sawit SMART- Petani Plasma, Libo, Riau)

  • Materi 1: Herdrajat Natawidjaja, Kepala Sekretariat Komisi ISPO
  • Kunjungan Lokasi I: Replanting dan Chpping Kelapa Sawit
  • Kunjungan Lokasi II: Pembibitan Kelapa Sawit
  • Kunjungan Lokasi III: Proses Pemanenan
  • Kunjungan Lokasi IV: High Conservation Value
  • Kunjungan Lokasi V: Pabrik dan Biogas
  • Sesi Diskusi

 

Hari Ketiga: 01 Juni 2016 (Kunjungan ke Perkebunan kelapa sawit- Petani Swadaya, Libo, Riau)

Kunjungan Lokasi: Kebun Plasma Petani Swadaya


Remaks Materi Seminar:

  • Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia dengan produksi minyak kelapa sawit pada tahun 2014 mencapai sebesar 33 juta ton, di mana terjadi peningkatan yang stabil selama 20 tahun terakhir sebesar 11% setiap tahunnya. Namun, peningkatan ini tidak diikuti dengan sentimen positif dari harga minyak sawit dunia yang mengalami penurunan cukup signifikan panda tahun 2014. Dikarenakan hal tersebut, pada tahun 2015 pemerintah membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP). BPDP dibentuk untuk mengelola dana dalam rangka menetapkan pasar bar dalam negeri.  Bantuan dana sawit yang diberikan oleh BPDP adalah sebesar Rp. 25jt untuk peremajaan kebun kelapa sawit.  Dana sebesar Rp. 25jt tersebut akan diberikan kepada Petani Swadaya merupakan petani yag mengusahakan pengelolaan lahan kelapa sawitnya secara mandiri. Sebagian besar pekerjaan petani swadaya dilakukan oleh anggota keluarga dan hal tersebut menjadi sumber utama mata pencaharian mereka. Berbeda dengan petani plasma yang merupakan suatu badan usaha yang mengelola lahan milik kelompok kepentingan.
  • Isu-isu keberlanjutan yang ada dalam pengembangan kelapa sawit antara lain: berkurangnya tutupan dan kawasan hutan, kehilangan keanekaragaman hayati, terganggungnya keseimbangan ekosistem, meningkatnya emisi gas rumah kaca, timbulnya konflik sosial dengan masyarakat di sekitar perkebunan,.
  • Untuk menjadikan pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan maka dibentuklah sertfikasi RSPO. RSPO dibentuk tahun 2004 untuk mempromosikan produksi dan penggunaan minyak kelapa sawit berkelanjutan untuk people, planet dan prosperity.
  • Dana peremajaan perkebunan yang diberikan oleh BPDP dimaksudkan untuk pengoptimalan hasil produksi kepala sawit petani swadaya. Secara umum, permasalahan yang dihadapi oleh petani swadaya adalah pengelolaan kelapa sawit yang masih amatir dari segi umur pohon kelapa sawit yang sudah tidak produktif, tidak adanya pemilihan bibit kelapa sawit yang sesuai dengan standar,
  • Dana sebesar Rp. 25jt yang diberikan oleh BPDP untuk peremajaan secara total hanya bisa mengcover 30% dari peremajaan kelapa sawit secara total. Total biaya yang diperlukan untuk peremajaan perkebunan sekitar Rp. 60jt.  Oleh karena itu, masih diperlukan dana tambahan lagi sebesar Rp. 45jt untuk peremajaan perkebunan.
  • BPDP dalam hal ini mengusulkan agar setiap petani membentuk atau tergabung dalam koperasi atau kelompok tani.  Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam peremajaan perkebunan kelapa sawit:
  • Petani: pemilik kebun kurang dari 4hektar/Petani
  • Lahan/Kebun: telah/berpotensi untuk mendapatkan sertifikat ISPO sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku
  • Setiap proyek peremajaan: 300-800 hektar, bisa tidak satu hamparan asal berdekatan tetapi sebaiknya satu hamparan.
  • Petani tergabung dalam koperasi/kelompok tani
  • Bantuan dana sawit berbentuk hibah (grant) dan akan diberikan melalui transfer ke rekening proyek yang disepakati oleh petani dan bank
  • Besarnya bantuan dana sawit untuk peremajaan tahun 2016 sebesar Rp. 25jt / hektar
  • Petani wajib bekerjasama dan mengikat akad dengan benar
  • Permasalah yang perlu diperhatikan dalam petani swadaya adalah adanya lahan yang telah digunakan untuk digadaikan untuk hutang pribadi dan hampir sebagian besar belum adanya mata pencaharian tambahan pada saat replanting/peremajaan kepala sawit  (4-5th sebelum panen). Hal itulah yang menyebabkan perbankan enggan untuk memberikan pinjaman atas sisa dana yang dibutuhkan petani untuk melakukan replanting.
  • Beberapa program inovasi kemitraan antara perkebunan petani swadaya yang bekerjasama dengan petani plasma (perusahaan) adalah dengan menggunakan manajemen satu atap. Keuntungan manajemen satu atap adalah sebagai berikut:
  • Kebun dikelola profesional dan transparan -->memberikan pengetahuan dan pelatihan admin, teknis dan organisasi serta adanya transfer teknologi
  • Kondisi tanaman seragam --> Pembangunan dan perawatan merata, sesuai praktik agronomi yang baik, serta biaya operasional lebih efisien
  • Pendapatan petani relatif lebih tinggi --> petani dapat bekerja sesuai kebutuhan dan seleksi dan harga TBS sesuai disbun propinsi serta kualitas TBS lebih baik
  • Memberikan kesempatan --> petani dan anak petani memiliki kesempatan bekerja di kebun atau diluar kebun atau ber-wiraswasta
  • Menumbuhkan kebersamaan --> keamanan lebih baik, pengawasan teknis lebih efektif serta tidak ada kesenjangan antar petani