Traning Analis Lingkungan Hidup (TAL) untuk Lembaga Jasa Keuangan Bulan Juni 2017

​​IMG_8893.JPG

Training Analis Lingkungan (TAL) angkatan 1 tahun 2017 diselenggarakan pada tanggal 6-9 Juni 2017 di hotel Santika Yogyakarta dengan 32 peserta dari perbankan dan 2 orang dari pihak akademisi. Materi yang disampaikan pada training tersebut adalah sebagai berikut:

Hari Pertama:

  1. Pre-Test
  2. Update regulasi keuangan berkelanjutan – OJK
  3. Update regulasi Energi Terbarukan Solar PV – KESDM
  4. Materi Tata Kelola Aspek Lingkungan dan Sosial dalam Bisnis Perbankan – LPEM FEBUI
  5. Overview regulasi AMDAL – KLHK
  6. Overview regulasi PROPER – KLHK

Hari Kedua:

  1. Overview bisnis model IPP dalam energi terbarukan – USAID-ICED II
  2. Overview Solar PV Power (grid connected), Technology Update, Market Assessment, Rule of Thumb in Investment and Risk – USAID-ICED II
  3. Due Diligence on Solar PV Loan Proposal (grid connected), a Case study Discussion on Feasibility Study of 1 MW Solar PV Project – USAID-ICED II
  4. Implementasi Tata Kelola Lingkungan dan Sosial dalam Proses Review Proposal Pinjaman Proyek Energi Bersih – LPEM-UI
  5. Implementasi Tata Kelola Lingkungan dan Sosial dalam Proses Monitoring Pinjaman/ Portofolio Proyek Energi Bersih – LPEM-UI
  6. Brief presentation dari PLTH Pantai Baru – PLTH Pantai Baru

Hari Ketiga:

  1. Site visit ke PLTH Pantai Baru – USAID-ICED dan PLTH Pantai Baru
  2. Diskusi Kelompok Studi Kasus

Hari Keempat

  1. Post Test
  2. Presentasi Studi Kasus Kelompok
  3. Overview Hasil Presentasi Kelompok
     
    Remark Materi:
  1. Dalam rangka menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup, sesuai dengan ketentuan yang terdapat pada  UU No. 32 Tahun 2009 serta PPU di bidang PPLH, setiap usaha dan/atau kegiatan, salah satunya, wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan UKL/UPL dan Izin Lingkungan. Saat proses aplikasi permohonan kredit telah diterima oleh bank, penilaian risiko lingkungan dan sosial dapat dilakukan. Proses tersebut pada dasarnya terdiri atas 4 fase, yaitu: fase 1: Desktop reviews; fase 2: In-depth interviews; fase 3: Detailed investigations; dan fase 4: On going monitoring. Pada fase 2, review yang dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan dokumen lingkungan seperti, AMDAL atau UKL/UPL.
  2. Penilaian PROPER terbagi menjadi 5, yaitu: hitam, merah, biru, hijau, dan emas. Nilai hitam, merah, dan biru menunjukkan ketaatan perusahaan dalam peraturan lingkungan hidup. Sedangkan hijau dan emas menunjukkan ketaatan perusahaan yang lebih dari sekedar menaati peraturan lingkungan hidup. Kriteria perusahaan PROPER: wajib AMDAL; produk orientasi ekspor; terdaftar dalam bursa; produk/jasa bersentuhan langsung dengan masyarakat; menggunakan bahan baku limbah impor non-B3; menjadi perhatian masyarakat di lingkup regional dan nasional; dan berlokasi di daerah yang beresiko terjadi pencemaran dan kerusakan lingkungan.
  3. Rasio elektrifikasi nasional baru mencapai 91.16% sedangkan target pemerintah pada RPJM adalah 97,35% pada tahun 2019. Masih terdapat gap yang cukup besar antara target dan realisasi. Indonesia memiliki potensi yang besar. Kapasitas PLN hingga saat ini hanya sebesar 55 GW. Dari energi terbarukan, dapat menyumbang sebesar 443 GW yang sudah disediakan oleh alam. Salah satunya adalag energy surya yang dapat menyumbang sebesar 207,8 GW.
  4. Berdasarkan estimasi GHI (Global Horizontal Irradiance) wilayah nusantara mempunyai rerata potensi tenaga surya sebesar 4,8 kWh/m2/hari dengan kisaran potensi antara 3,6 – 7,5 kWh/m2/hari atau setara dengan potensi gross produksi tahunan sebesar 1,400 – 2,300 kWh/m2/tahun. Potensi tertinggi terutama terletak di sebagian besar wilayah NTT.
  5. Keunggulan pengembangan PLTS di Indonesia, diantaranya; cahaya matahari yang konsisten sepanjang tahun; Tidak membutuhkan pengiriman bahan bakar maupun air (liquid) dalam jumlah besar; kebutuhan pemeliharaan yang relatif minimal; dan pengawasan sistem dapat dilakukan dari jauh.
  6. Investasi yang dibutuhkan di depan untuk proyek energi bersih cukup besar, berkisar antara US$2,5 juta – US$25 juta per proyek, US$ 2.5 juta/ MW. Terdapat ratusan proposal proyek-proyek energi bersih yang hampir 90% didominasi oleh proyek-proyek hidro. Walaupun proyek dalam skala kecil /menengah tetapi pengembangannya sangat kompleks. Sponsor proyek adalah para entrepreneur/individu, perusahaan skala menengah, grup perusahaan dan technology provider. Investor asing menunjukan ketertarikan yang sangat besar pada sektor ini.
  7. Tantangan yang dihadapi lembaga keuangan dalam melakukan pembiayaan energi bersih, diantaranya: kurangnya ketersediaan informasi mengenai proyek energi bersih; belum terbentuk industri pendukung sektor seperti konsultan teknis, pendidikan pengembangan, pusat data informasi dll; belum ada alternatif produk pembiayaan untuk risk sharing mechanism/credit enhancement seperti asuransi dan penjaminan; Terbatasnya proyek energi bersih yang telah dibiayai secara komersial atau sukses diimplementasikan sebagai rujukan; kurangnya personel lembaga keuangan yang berpengalaman dalam mengevaluasi proposal proyek energi bersih; dll.