Training Analis Lingkungan Hidup (TAL) untuk Lembaga Jasa Keuangan Tanggal 25-28 Oktober 2016

​​​Pada tanggal 25 sampai 28 Oktober 2016, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerjasama dengan United State Aids for Indonesian Development – Indonesia Clean Energy Development (USAID-ICED) menyelenggarakan kembali Training Analis Lingkungan Hidup (TAL) untuk Lembaga Jasa Keuangan (LJK) di Pulau Belitung. Ada 33 orang yang menjadi peserta di dalam training kali ini, uang tidak hanya berasal dari LJK saja, tetapi juga terdapat beberapa peserta dari lembaga pendidikan, lembaga training dan Non-Government Organization (NGO).

Foto Bersama Peserta dan Panitia TAL Belitung.jpg 

Foto Bersama Peserta dan Panitia dalam TAL Belitung

Di samping materi internalisasi aspek risiko sosial dan lingkungan dalam proses bisnis (terutama pemberian kredit), kali ini para trainer juga memberikan materi mengenai pembiayaan untuk Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Bioenergi, terutama Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Biomasa (PLTBM). Materi ini meliputi aspek pembiayaan, risiko sosial dan lingkungan, dan aspek teknisnya. Selain materi ­in-class, sama seperti kegiatan TAL sebelumnya, peserta training juga dibawa untuk melakukan site visit ke satu-satunya PLTBG  komersil (Independent Power Producer/IPP) di Indonesia yang dikelola oleh PT. Austindo Nusantara Jaya.

Potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) dari biogas dan biomassa di Indonesia sangat besar, terutama energi yang berasal dari sampah dan  kelapa sawit. Berdasarkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumber daya biomassa di Indonesia mencapai 32 GW. Akan tetapi, pada posisi di tahun 2015, kapasitas terpasang energi biomassa di Indonesia hanya sekitar 1,4 GW, kurang dari 5% dari sumber daya tersebut.

Penjelasan oleh Staff dari PT. ANJ.jpg 

Penjelasan dari Staff PT. ANJ mengenai PLTBG di Belitung

Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Produsen kelapa sawit ini tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Dengan demikian, seharusnya Indonesia memiliki kapasitas terpasang PLTBG yang besar. Sayangnya sampai saat ini Indonesia baru memiliki satu PLTBG yang merupakan IPP yang bersifat komersil yang seluruh produksinya didistribusikan ke PLN. PLTBG lainnya dibangun hanya untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan dan, jika ada kelebihan (excess power), sisanya baru akan dijual ke PLN. Pemerintah perlu mendorong PLN dan/atau IPP untuk mengembangkan PLTBG agar penduduk yang belum teraliri listrik mendapatkan akses dari kebutuhan primer tersebut.

Ada beberapa kelebihan dari PLTBG dibangkit pembangkit listrik EBT lainnya. Pertama, dari sisi input, PLTBG memiliki input yang jelas, yaitu residu dari kelapa sawit. Selama pabrik berproduksi, feedstock untuk PLTBG akan selalu ada. Melihat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan produksi kelapa sawit terbesar di dunia, feedstock untuk pembangkit ini dinilai aman.

Selain itu, tidak seperti pembangkit listrikt tenaga hidro, bayu, dan surya, cuaca dan iklim tidak langsung mempengaruhi proses produksi listrik dari PLTBG. Pengaruh cuaca bersifat tidak langsung yaitu melalui produksi dari kebun kelapa sawit. Untuk memitigasi ketidakstabilan produksi listrik, PLTBG dan pabrik kelapa sawit harus rutin melakukan koordinasi untuk menganalisis jumlah produksi kelapa sawit pada waktu tertentu. Hal inilah yang dilakukan oleh PT. ANJ dengan PT. ANJ Agri selaku feedstock supplier.

Terakhir, feed-in tariff untuk PLTBG juga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan PLT Hidro. Berdasarkan Permen ESDM No. 27 Tahun 2014 dan No. 19 Tahun 2013, feed-in tariff untuk PLT Bioenergi tidak kurang dari Rp1.400/kWh untuk tegangan rendah dan Rp1.050/kWh untuk tegangan menengah. Tarif diberikan lebih tinggi jika pembangkit dibangun menggunakan sampah kota. Di lain sisi, tarif yang diberikan untuk PLT Hidro adalah Rp1.270/kWh untuk tegangan rendah dan Rp1.075/kWh untuk tegangan menengah

Diskusi Bersama Peserta Pelatihan.jpg 

Salah Satu Peserta mengajukan Pertanyaan dalam Kegiatan Diskusi

Melalui training kali ini, LJK, terutama bank, diharapkan terdorong untuk membiayai proyek-proyek PLT Bioenergi, terutama PLTBG dan PLTBM. Dengan berpartisipasi melalui pembiayaan proyek-proyek tesebut, LJK tidak hanya berpartisipasi dalam menjaga lingkungan hidup saja, tetapi juga berpartisipasi dalam pembangunan yang lebih inklusif.