Training Analis Lingkungan Hidup (TAL) Tingkat Intermediate Bulan Oktober 2017

20171013_162654.jpg

Training Analis Lingkungan (TAL) Tingkat Intermediate Angkatan 2 telah dilaksanakan di Jakarta pada 11-13 Oktober 2017 dengan dihadiri 12 peserta yang berasal dari perbankan. Adapun materi yang disampaikan pada training tersebut, sebagai berikut: 

Hari Pertama

  1. Overview Regulasi Keuangan Berkelanjutan
  2. ​​Aspek Risiko Lingkungan dan Sosial dalam Bisnis Perbankan
  3. Pengembangan Produk Keuangan Hijau 
  4. Manajemen Risiko Lingkungan dan Sosial pada Level Proyek

Hari Kedua

  1. Integrasi Manajemen Risiko Lingkungan da Sosial dalam Bisnis Perbankan
  2. Laporan Keberlanjutan
  3. Konsep Dasar dan Implementasi ESRM di Standard Chartered Bank Indonesia
  4. Diskusi Kelompok

Hari Ketiga

  1. Post Test
  2. Presentasi Studi Kasus Kelompok
  3. Review Presentasi Kelompok

Remarks Materi

  • Risiko lingkungan dan sosial menimbulkan dampak baik bagi klien maupun lembaga keuangan. Bagi klien, risiko lingkungan dan sosial dapat mengakibatkan disrupsi pada kegiatan operasional, denda dan pinalti, kehilangan market share, serta market devaluation akibat liabilitas. Sedangkan bagi lembaga keuangan, akna menimbulkan kewajiban lingkungan dan sosial yang muncul akibat klien, berkurangnya kemampuan pelunasan, dan turunnya harga jaminan. Hal ini akan berimplikasi pada hilangnya asset, berkurangnya laba, serta rusaknya reputasi.
  • Elemen sosial terdiri dari 2 aspek, yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal terdiri dari 2 aspek yaitu ketenagakerjaan, serta lingkungan dan suasana kerja. Sedangkan aspek eksternal terdiri dari 3 aspek, yaitu warga sekitar dan masyarakat adat, pembebasan lahan dan pemukiman kembali, serta warisan budaya.
  • Aspek lingkungan dan aspek sosial telah diatur dalam beberapa regulasi, diantaranya tergulasi terkait lingkungan, regulasi terkait ketenagakerjaan, regulasi terkait pembebasan lahan, regulasi terkait warisan budaya, dan regulasi terkait warga sekitar/ penduduk asli.
  • Mengintegrasikan ESRM secara parsial dapat menurunkan risiko bisnis. Adapun sistem ESRM dapat diadaptasi dari standar yang telah ada. Inisiasi produk hijau juga dapat dilakukan dalam rangka mengimplementasikan keuangan berkelanjutan. Dengan inovasi produk hijau, lembaga keuangan dapat menjadi market leader dan mendapatkan acknowledgement.
  • Terdapat 3 pemicu dalam pengembangan produk keuangan hijau, yaitu kesadaran lingkungan dan liputan media, kepedulian lingkungan dan opini publik, serta peraturan lingkungan.
  • Strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan dan pemasaran produk keuangan hijau, diantaranya melakukan green branding, mengadopsi fitur produk keuangan tradisional yang sudah lebih dulu terbukti berhasil, menghilangkan hambatan pemasaran produk keuangan hijau, melakukan riset pasar dan riset terhadap pemangku kepentingan, serta melakukan kampanye untuk menjangkau para pemangku kepentingan.
  • Produk keuangan hijau yang dapat dikembangkan salah satunya adalah pembiayaan bangunan hijau. Suatu bangunan dapat dikatakan hijau jika bangunan tersebut dapat dikurangi konsumsi energinya, memenuhi standar atau sertifikasi, dan mempunyai label hijau. Bangunan hijau di Indonesia dapat dikembangkan untuk universitas, bangunan pemerintah, sektor privat, dan institusi keuangan.
  • Setiap aktivitas usaha memiliki faktor risiko lingkungan dan sosial bawaan. Jika debitur tidak mengelola faktor risiko bawaan tersebut dengan baik, faktor lingkungan dan sosial dapat memicu faktor lain sehingga menimbulkan dampak negative bagi debitur. Jika bank mengabaikan pengelolaan lingkungan dan sosial oleh debitur, maka faktir tersebut juga dapa memicu risiko kredit dan operasional bagi bank. Risiko lingkungan sendiri terbagi menjadi 3, yaitu: risiko rendah, risiko menengah, dan risiko tinggi.
  • Risiko lingkungan dan sosial debitur dapat memberikan dampak terhadap bank, yaitu ketidakmampuan debitur melakukan pembayaran akibat biaya lingkungan dan sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, kelebihan penilaian terhadap aset yang dijadikan jaminan, penurunan nilai aset yang dijadikan jaminan, timbulnya kewajiban secara etika atau bahkan hukum untuk melakukan perbaikan, dan penurunan reputasi bank.
  • Eksposur bank terhadap risiko lingkungan dan sosial ditentukan oleh besar dan jenis transaksi, jangka waktu transaksi, jenis agunan, serta syarat dan ketentuan pinjaman.
  • Dalam mengimplementasikan manajemen risiko lingkungan dan sosial perlu dilakukan environmental and social due diligence,dan risk assessment. Tahapan risk assessment, yaitu risk identification, risk analysis, risk measurement, dan risk mitigation. Sedangkan tahapan environmental and social risk due diligence, yaitu environmental and social risk screening, environmental and social risk appraisal, environmental and social risk control, serta environmental and social risk reporting/ monitoring.
  • Terdapat 3 risiko dalam melakukan risk analysis, yaitu core risks, direct drivers, dan indirect drivers. Sedangkan pengukuran risiko (risk measurement) terbagi menjadi kualitatif dan kuantitatif. Output dari pengukuran risiko adalah risk map, probability, dan severity.
  • Hal-hal yang dilakukan dalam environmental and social risk appraisal adalah mengumpulkan informasi hingga memadai untuk memahami risiko seutuhnya dan mengevaluasi dampak dari risiko tersebut, mereviu perizinan dan kepatuhan terhadap peraturan lain terkait aspek lingkungan dan sosial, menilai kesadaran, komitmen, dan sumber daya yang dimiliki calon debitur terkait aspek lingkungan dan sosial, memperhitungkan kemungkinan bahwa jaminan yang akan diberikan oleh calon debitur dapat mengalami penurunan nilai akibat faktor lingkungan dan sosial, serta mengidentifikasi peluang bagi bank yang muncul dari kepedulian terhadap aspek lingkungan dan sosial.
  • Environmental investigation terbagi menjadi 2, yaotu environmental assessment, dan environmental audit. Hal-hal yang harus dilakukan dalam environmental assessment adalah observasi area usaha, fasilitas, dan lingkungan sekitarnya; dokumentasi rencana perubahan; penilaian dampak lingkungan dan sosial dari proyek yang akan didanai; pembahasan alternatif; dan pembahasan rencana mitigasi. Sedangkan yang harus dilakukan dalam environmental audit, yaitu mengevaluasi operasi masa lalu dan saat ini, mengidentifikasi dan menilai permasalahan uama terkait lingkungan, mengidentifikasi masalah kepatuhan hukum, melakukan konsultasi publik, memberikan rekomendasi solusi dan perbaikan, serta membuat rencana pengawasan.
  • Integrasi manajemen risiko lingkungan dan sosial dalam proses bisnis perbankan bertujuan untuk dapat memahami risiko lingkungan dan sosial pada portofolio pembiayaan lembaga keuangan dengan lebih baik; mengevaluasi, mengurangi dan memantau risiko secara structural; memaksimalkan peluang untuk mendapatkan manfaat lingkunga dan sosial melalui pengendalian risiko lingkungan dan sosial yang efektif; mematuhi standar nasional dan perjanjian internasional yang berlaku; serta membangun reputasi yang baik di antara nasabah, investor dan pemangku kepentingan terkait lainnya.
  • Integrasi ESRM ke dalam tata kelola manajemen risiko existing dapat dilakukan dengan melakukan revisi dengan memasukkan pertimbangan aspek lingkungan dan sosial ke dalam seluruh siklus transaksi atau membuat SOP stand-alone untuk mendokumentasikan secara formal proses ESRM.
  • Dalam analisis kelayakan permohonan kredit terdapat 3 hal yang harus diperhatikan, yaitu feasibility, bankability, dan sustainability. Sustainability berfokus pada potensi risiko lingkungan dan sosial, dan penilaian atas kemampuan dan resncana mitigasinya.
  • Laporan keberlanjutan merupakan salah satu cara perusahaan untuk melaksanakan akuntabilitasi melalui penerbitan laporan. Dalam menyiapkan laporan keberlanjutan, perushaan harus mengakomodasi kepentingan para stakeholder agar laporan keberlanjutan yang diterbitkan dapat memberikan nilai tambah bagi stakeholder. Perusahaan dapat mengungkapkan laporan keberlanjutan sebagai bagian dari annual report, laporan tersendiri, press release, bulletin pegawai, ataupun website perusahaan.
  • Sudah ada panduan laporan keberlanjutan. Panduan yang sudah keluar di internasional, yaitu UN Global Compact, dan GRI. Sedangkan  di Indonesia, laporan keberlanjutan sudah diatur dalam POJK No. 51/POJK.03/2017 Tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Panduan laporan ini masih dalam bentuk draft.
  • Pelaporan laporan keberlanjutan pada sektor jasa keuangan mengikuti standar pengungkapan umum yang adalah sama dengan persyaratan GRI G.4 secara umum. Hal-hal yang diungkapkan secara umum, yaitu strategi dan analisis; profil organisasi; aspek material teridentifikasi dan batasan; stakeholder engangement; profil laporan; tata kelola; serta etika dan integritas. Sedangkan untuk standar pengungkapan spesifik, yaitu ekonomi; lingkungan; dan sosial.
  • Dalam menyajikan standar pengungkapan spesifik terdapat pokok terpenting yang harus dilaporkan perusahaan, yaitu pengungkapan atas pendekatan manajemen (DMA). DMA dilaporkan dengan tujuan untuk memberi penjelasan bagaimana dampak ekonomi, lingkungan dan sosial terkait dengan aspek-aspek yang material dikelola oleh perusahaan. DMA menyajikan narasi atas bagaimana organisasi mengidentifikasi, menganalisis, dan merespon dampak aktual dan potensial dari aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial.
  • Dalam POJK tentang Keuangan Berkelanjutan dijelaskan bahwa isi dari laporan keberlanjutan, yaitu penjelasan strategi keberlanjutan dan tema laporan keberlanjutan; ikhtisar kinerja aspek keberlanjutan; profil singkat perusahaan; laporan direksi; tata kelola keberlanjutan; kinerja keberlanjutan; surat pernyataan anggota direksi tentang tanggung jawab atas laporan keberlanjutan; laporan verifikasi dari pihak independen; dan lembar umpan balik untuk pembaca.