Training Analis Lingkungan Hidup (TAL) Intermediate untuk Lembaga Jasa Keuangan Bulan September 2017

IMG-20170922-WA0003.jpg

Training analis lingkungan angkatan 2 diselenggarakan pada tanggal 18-20 September 2017 di hotel Harris Bogor dengan jumlah peserta 20 perbankan.  Materi yang disampaikan pada training tersebut adalah sebagai berikut:

HARI PERTAMA:

1.   Update peraturan otoritas jasa keuangan mengenai keuangan berkelanjutan;

Roadmap keuangan berkelanjutan disusun untuk sampai dengan tahun 2024. Roadmap ini ada karena Indonesia memiliki SDA yang banyak dan disisi lain Indonesia sebagai daerah rawan gempa. Posisi seperti itu ternyata juga rawan adanya dampak bencana alam baik alam itu sendiri maupun oleh manusia. Jika kita tidak paham perilaku lingkungan hidup, kita akan menjadi terkaget-kaget dalam memitigasi risiko.  Yang kedua adalah masalah sosial, Indonesia ini memiliki indeks kemiskinan yang tidak pernah turun. Artinya kemiskinan identik dengan kerusuhan jika tidak dikelola dengan baik.  Outcome Roadmap keuangan berkelanjutan adalah Kontribusi IJK pada ekonomi rendah karbon, perlindungan nasabah dan stabilitas sistem keuangan, Peningkatan portfolio pendanaan sektor ekonomi prioritas (RPJMN) /SDGs/Climate Change, Menyempurnakan Platform Industri Jasa Keuangan dengan prinsip keberlanjutan (3P "People,Profit,Planet"). OJK akan membangun ekosistem keuangan berkelanjutan dengan berfokus pada empat hal: Kelembagaan (Internal OJK, LJK, Mitra Strategis), Sumber Daya Manusia (Kurikulum, Sertifikasi, Pendidikan Formal), Informasi dan Interkoneksi (Information hub, Forum Koordinasi, Edukasi), Pengaturan dan Standar (kelembagaan, Manajemen Risiko, Akuntansi).

OJK telah menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 51 /POJK.03/2017 Tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan Bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, Dan Perusahaan Publik. Peraturan tersebut mengatur LJK agar menerapkan keuangan berkelanjutan dengan cara membuat rencana aksi keuangan berkelanjutan dan laporan keberlanjutan. Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan adalah dokumen tertulis yang menggambarkan rencana kegiatan usaha dan program kerja LJK jangka pendek (satu tahun) dan jangka panjang (lima tahun) yang sesuai dengan prinsip yang digunakan untuk menerapkan  Keuangan Berkelanjutan, termasuk strategi untuk  merealisasi rencana  dan program kerja tersebut sesuai dengan target dan waktu yang ditetapkan, dengan tetap memperhatikan pemenuhan ketentuan kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko. Sedangkan Laporan Keberlanjutan  (Sustainability Report)  adalah laporan yang diumumkan kepada masyarakat yang memuat kinerja ekonomi, keuangan, sosial, dan Lingkungan Hidup  suatu LJK, Emiten, dan Perusahaan Publik dalam menjalankan bisnis berkelanjutan.

Prinsip Penerapan Keuangan Berkelanjutan terdiri atas prinsip investasi bertanggung jawab; prinsip strategi dan praktik bisnis berkelanjutan; prinsip pengelolaan risiko sosial dan  Lingkungan Hidup; prinsip tata kelola; prinsip komunikasi yang informatif;prinsip inklusif; prinsip pengembangan sektor  unggulan  prioritas; dan prinsip koordinasi dan kolaborasi. Penyusunan detail rencana aksi keuangan berkelanjutan dan laporan keberlanjutan bisa dilihat pada lampiran 1 dan lampiran 2 POJK Keuangan Berkelanjutan.

2.   Aspek Risiko Lingkungan dan Sosial dalam Bisnis Perbankan;
Tujuan Keuangan Berkelanjutan adalah Mengintegrasikan aspek lingkungan dan sosial dalam proses bisnis (ESG) dan Meningkatkan portofolio hijau.  Aspek sosial dibagi menjadi 2 hal yaitu aspek internal dan aspek eksternal. Aspek internal terdiri atas ketenagakerjaan dan lingkungan dan suasana kerja . Sedangkan aspek eksternal adalah Warga sekitar dan Masyarakat adat; pembebasan lahan dan pemukiman kembali; dan warisan budaya.

3.   Pengembangan Produk Keuangan Hijau;
Strategi pengembangan dan pemasaran produk keuangan hijau dapat dijalankan dengan langkah-langkah berikut:

  1. Melakukan "green" branding
  2. Mengadopsi fitur produk keuangan  tradisional yang sudah lebih dahulu terbukti berhasil
  3. Menghilangkan hambatan pemasaran produk keuangan hijau
  4. Melakukan riset pasar dan riset terhadap pemangku kepentingan
  5. Melakukan kampanye untuk menjangkau para pemangku kepentingan

4.   Manajemen Risiko Lingkungan dan Sosial pada Level Proyek;
Penerapan manajemen risiko lingkungan dan sosial bagi perbankan bukan berarti bahwa bank harus mengembangkan sebuah sistem yang baru, karena pengelolaan aspek lingkungan dan sosial bagi perbankan dapat dilakukan dengan melakukan integrasi ke dalam proses bisnis dan sistem manajemen risiko yang sudah ada di masing-masing bank. Pengelolaan aspek lingkungan dan sosial dapat diintegrasikan kedalam proses bisnis yang dilakukan bank ketika menerima pengajuan kredit dari calon debitor.
Berdasarkan sifat dari dampak yang ditimbulkannya, risiko lingkungan dan sosial dapat memiliki skala rendah (low), menengah (medium), maupun tinggi (high). Klasifikasi awal ke dalam tiga skala tersebut dilakukan dengan melihat aktivitas bawaan (inherent activity) suatu industri, sehingga setiap industri akan memiliki klasifikasi yang berbeda, tergantung inherent activity yang terdapat dalam proses bisnis suatu industri.
Risk assessment  dan  environmental and social risk due diligence  adalah dua framework  yang dapat disinergikan untuk melakukan manajemen risiko lingkungan dan sosial secara sistematis. Kedua  framework  tersebut memiliki tahapan dan aktivitas utamanya masing-masing.
Risk assessment dilakukan dalam empat tahap. Keempat tahapan  risk assessment tersebut beserta aktivitas utamanya adalah:

    1. Risk identification, dengan aktivitas utama menyusun risk universe
    2. Risk analysis, dengan aktivitas utama memahami karakteristik risiko
    3. Risk measurement, dengan aktivitas utama menilai dan menyusun prioritas risiko
    4. Risk mitigation, dengan aktivitas utama menentukan langkah pengendalian dan pengawasan risiko
Selanjutnya, environmental and social risk due diligence juga memiliki empat tahap. Keempat tahapan  environmental and social risk due diligence  tersebut beserta aktivitas utamanya adalah:
  1. Environmental and social risk screening, dengan aktivitas utama mengidentifikasi potensi risiko yang dipicu oleh faktor lingkungan dan sosial, yang harus ditanggung oleh bank dalam suatu transaksi dengan debitur.
  2. Environmental and social risk appraisal, dengan aktivitas utama menilai kepedulian, komitmen, dan sumber daya yang dimiliki debitur untuk mengelola aspek lingkungan dan sosial yang menimbulkan risiko bagi bank.
  3. Environmental and social risk control, dengan aktivitas utama mengevaluasi  kemungkinan dampak keuangan bagi bank dari risiko lingkungan dan sosial berdasarkan penilaian sebelumnya.
  4. Environmental and social risk reporting/monitoring, dengan aktivitas utama mengelola dan mengendalikan eksposur bank yang dipicu oleh faktor lingkungan dan sosial.

HARI KEDUA:

1.   Integrasi Risiko Lingkungan dan Sosial (Environmental and Social Risk Management/ ESRM) dalam Bisnis Perbankan;

Sumber daya manusia yang terlibat dalam integrasi risiko lingkungan dan sosial antara lain: manajemen senior, ESRM OfHicer, ESRM Coordinator,  Loan OfHicer/Relationship Manager, Credit/Investment Analyst, Credit/Invesment Committee, Legal Department. Implementasi ESRM:

  1. Review E&S Regulatory Framework: ESRM harus di-update sesuai dengan peraturan  lingkungan dan sosial yang berlaku, terutama yang dibutuhkan untuk AMDAL.
  2. Internal Communication and Training: Prosedur pendukung harus disosialisasikan ke seluruh     staf. Bisa melalui email, memo, rapat, newsletter, presentasi dan seminar.
  3. ESRM Testing Phase: ESRM diimplementasikan secara bertahap, diuji coba dengan tahap pilot dan pengaplikasian yang terbatas (misal, terbatas pada sektor tertentu)
  4. ESRM Review and Continuous Improvement: Perlu dilakukan review dan update prosedur, regulasi dan risiko E&S secara berkala
  5. Assign ESRM Responsibilities: Penunjukan staf yang bertanggung jawab terhadap implementasi sistem manajemen risiko lingkungan dan sosial (ESRM)

2.   Laporan Keberlanjutan;
Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) sebagai bentuk akuntabilitas Keuangan Berkelanjutan, melaporkan aspek: Ekonomi, Sosial dan Lingkungan. SR adalah salah    satu cara perusahaan (bank) untuk melaksanakan akuntabilitas melalui penerbitan laporan. Konsep laporan keberlanjutan dibagi menjadi 2 yaitu

  1. voluntary (materiality & boundary)   yang terdiri atas  GRI (Global Reporting Initiative) panduan pelaporan keberlanjutan. Laporan lain yang spesifik, misalnya anggota UN Global Compact wajib menyampaikan Laporan COP (Communication of Progress).
  2. Mandatory (regulatory-based) SASB (Sustainability Accounting Standard Board), mandatory for listed companies by SEC dan POJK No.51/POJK.03/2017 Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik.

3.   Diskusi Kelompok

HARI KETIGA:

1.   Post Test

2.   Presentasi Group