Training for Trainers (ToT) Bidang Keuangan Berkelanjutan Pada Sektor Perbankan Angkatan 2 Bulan Oktober Tahun 2017

DSCF2408.JPG

Training for Trainers (ToT) Bidang Keuangan Berkelanjutan Pada Sektor Perbankan Angkatan 2 telah dilaksanakan di Jakarta pada 18-20 Oktober 2017 dengan dihadiri oleh 32 peserta. Adapun materi yang disampaikan pada training tersebut, sebagai berikut: 

Hari Pertama

1. Overview Regulasi Keuangan Berkelanjutan

Regulasi keuangan berkelanjutan ini merupakan regulasi yang bersifat awarness. Regulasi ini berlaku untuk lembaga jasa keuangan, emiten dan perusahaan publik. POJK ini terdiri atas batang tubuh, penjelas, dan lampiran I dan lampiran II. Sebagai penjelasan lebih lanjut, akan disusun petunjuk teknis. Terdapat 8 prinsip penerapan keuangan berkelanjutan. 8 prinsip tersebut tercantum dalam POJK Keuangan Berkelanjutan. Terdapat 3 kewajiban yaitu berupa pembuatan Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) dan laporan keberlanjutan dan kewajiban dana CSR bagi yang memiliki kewajiban. LKM dan Fintech merupakan LJK yang tidak terkena peraturan POJK mengenai keuangan berkelanjutan. 
RAKB wajib disertai waktu penerapan dengan paling sedikit penerapan adalah 
  • pengembangan Produk dan/atau Jasa Keuangan Berkelanjutan termasuk peningkatan portofolio pembiayaan, investasi atau penempatan pada instrumen keuangan atau proyek yang sejalan dengan penerapan Keuangan Berkelanjutan;
  • pengembangan kapasitas intern LJK; atau
  • penyesuaian organisasi, manajemen risiko, tata kelola, dan/atau standar prosedur operasional (standard operating procedure) LJK yang sesuai dengan prinsip penerapan Keuangan Berkelanjutan. (Pasal 6).
Kewajiban melaksanakan TJSL untuk LJK yang memiliki kewajiban mengalokasikan dana TJSL. OJK memberikan insentif kepada LJK, Emiten dan Perusahaan Publik yang dinilai menerapkan prinsip-prinsip keuangan berkelanjutan secara baik. Insentif yang sudah dilakukan untuk saat ini adalah capacity building dan Sustainable Finance Award (SFA).
Penyampaian RAKB secara luring (offline) kepada Otoritas Jasa Keuangan kepada pengawas masing-masing lembaga. LJK, Emiten, dan Perusahaan Publik wajib menyusun Laporan Keberlanjutan dengan kewajiban dipublikasikan melalui situs web paling lambat pada tanggal 30 April tahun berikutnya.

2. Overview Materi ​Aspek Lingkungan dan Sosial dalam Bisnis Perbankan

Risiko Lingkungan dan Sosial dari Perspektif Lembaga Keuangan jika ditinjau dari segi:
  • Klien: isu sosial dan lingkungan yang tidak terkelola dengan baik. menimbulkan risiko: disrupsi pada kegiatan operasional, denda atau pinalti, kehilangan market share, market devaluation akibat liabilitas.
  • Lembaga keuangan: terdapat risiko langsung dan risiko tidak langsung. risiko langsung adalah kewajiban lingkungan dan sosial yang muncul akibat klien, sedangkan risiko tidak langsung terdapat 3 risiko yaitu risiko kredit berupa berkurangnya kemampuan pelunasan, risiko pasar yaitu berupa turunnya harga jaminan, dan risik oreputasi yaitu berpa kewajiban lingkungan dan sosial yang muncul akibat klien. konsekuensi yang timbul adalah kehilangan aset, berkurangnya laba, dan rusaknya reputasi.
  • Identifikasilah dampak sosial dan lingkungan yang mungkin muncul dari:
    1. Industri pengolahan makanan 
    2. Industri pengilangan petrokimia 
    3. Industri perkebunan kelapa sawit 
    4. Industri pertambangan batu bara 
3. Overview Materi Pengembangan Produk Keuangan Hijau (Business Opportunity)
Produk keuangan hijau dibagi menjadi:
  1. Retail banking: Home mortgages, Commercial building loans, Home equity loans, Auto and fleet loans, Credit and debit cards , Personal accounts, Green sale and travel money products , Other products and services.
  2. Corporate and investment banking: Project finance, Securitization, Venture capital and private equity, Indices, Carbon commodity products and services, Other products and services 
  3. Asset management: Fiscal funds, Investment funds, Carbon funds, Cat bond funds 
  4. Insurance: Auto insurance , Home and business insurance, Carbon insurance
  5. Opportunity assessment: Emerging opportunities, “First mover” opportunity, Stakeholder alignment opportunities, Marketing and strategy opportunities
4. Overview Materi Integrasi Manajemen Risiko Lingkungan dan Sosial Pada Level Proyek

Manajemen Risiko Lingkungan & Sosial yang Sistematis terdiri atas:
  1. Faktor lingkungan dan sosial dapat menjadi risiko yang signifikan bagi dunia usaha. 
  2. Manajemen risiko lingkungan dan sosial dapat mendatangkan manfaat, namun juga membutuhkan biaya. 
  3. Pengelolaan aspek lingkungan dan sosial tidak jarang dikesankan lebih banyak menimbulkan biaya daripada mendatangkan manfaat.  
  4. Manajemen risiko lingkungan dan sosial dapat mencakup mulai dari hal yang sederhana hingga kompleks. 
Dampak Risiko Lingkungan dan Sosial Debitur Terhadap Bank:
  1. Ketidakmampuan debitur untuk melakukan pembayaran akibat biaya lingkungan dan sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya.
  2. Kelebihan penilaian (over-valuation) terhadap aset yang dijadikan jaminan.
  3. Penurunan nilai aset yang dijadikan jaminan akibat kerusakan lingkungan dan sosial selama jangka waktu pinjaman.
  4. Timbulnya kewajiban secara etika atau bahkan hukum untuk melakukan perbaikan akibat kerusakan lingkungan dan sosial.
  5. Penurunan reputasi bank karena keterkaitan dengan aktivitas yang merusak lingkungan atau menimbulkan keresahan sosial (kontroversial). 
Tahapan Environmental & Social Due Risk Diligence terdiri atas:
  1. Environmental and social risk screening. metode risk identification adalah Melakukan identifikasi atas risiko / kejadian yang berdampak buruk pada posisi keuangan (aset / sumber daya dan liabilitas / kewajiban) bank. 
  2. Environmental and social risk appraisal 
  3. Environmental and social risk control 
  4. Environmental and social risk reporting/monitoring
Hari Kedua 

1. Overview Materi Integrasi Manajemen Risiko Lingkungan dan Sosial dalam Proses Bisnis Perbankan

  • Sistem ESRM merupakan serangkaian kebijakan, prosedur, alat dan kapasitas internal untuk mengidentifikasi dan mengelola eksposur bank terhadap risiko lingkungan dan sosial, yang terutama datang dari nasabahnya.
  • Dalam mengintegrasikan ESRM ke dalam tata kelola manajemen risiko existing dapat dilakukan melalui revisi dengan memasukkan pertimbangan aspek lingkungan dan sosial ke daam selurug siklus transaksi, atau membuat SOP stand-alone untuk mendokumentasikan secara formal proses ESRM.
  • Terdapat 3 fokus analisis kelayakan permohonan kedit, yaitu feasibility dimana fokusnya pada aspek manajemen, teknis, keuangan, dan pasar; bankability dimana fokusnya pada pemenuhan persyaratan bank/ regulator, syarat agunan, self-financing (loan to value), dan pemenuhan covenants lainnya; dan sustainability dimana fokusnya pada potensi risiko lingkungan dan sosial dan penilaian atas kemampuan dan rencana mitigasinya.
  • Contoh integrasi ESRM ke dalam proses pemberian kredit, misalnya pada proses pemasaran menetapkan posisi S&E dalam materi pemasaran; proses permulaan melakukan screening dan penilaian nasabah; proses pengenalan nasabah melakukan filter agar terhindar dari transaksi pencucian uang dan terorisme; dll. 
  • Beberapa hal yang dilakukan dalam melakukan implementasi ESRM, yaitu:
    1. Review E&S regulatory framework, dimana ESRM harus di-update sesuai dengan peraturan lingkungan dan sosial yang berlaku, terutama yang dibutuhkan untuk AMDAL.
    2. Internal communication and training, dimana prosedur pendukung harus disosialisasikan ke seluruh staf. Bisa melalui email, memo, rapat, newsletter, presentasi dan seminar. 
    3. ESRM testing phase, dimana ESRM diimplementasikan secara bertahap, diuji coba dengan tahap pilot dan pengaplikasian yang terbatas.
    4. ESRM review and continuous improvement, dimana perlu dilakukan review dan update prosedur, regulasi dan risiko E&S secara berkala.
    5. Assign ESRM Responsibilities, dimana penunjukan personil yang bertanggung jawab terhadap implementasi sistem manajeman risiko lingkungan dan sosial.
  • Transaction Approval Process milik Dutch Development Bank (FMO) dapat dijadikan contoh proses kredit. Beberapa hal yang dilakukan oleh FMO diantaranya adalah mengecek exclusion list, melakukan ESG risk assessment, melakukan ESG due diligence, memasukkan aspek ESG ke dalam keputusan investasi, dll.
  • Terdapat 3 lini dalam melakukan credit control (3 lines of defense). Pada lini pertama, selain melakukan 5C, perlu dilakukan pula penilaian lingkungan dan sosial.
  • Aspek lingkungan dan sosial harus dimasukkan ke dalam siklus kredeit. Contohnya, melakukan environment screening pada tahap aplikasi, melakukan environmental appraisal pada tahap credit appraisal, dan mewajibkan adanya environmental risk control melalui environmental covenants pada tahap credit decision.
  • Evaluasi risiko dalam CRR terbagi menjadi dua, yaitu quantitative yang terdiri dari 2 aspek, financial aspects, dan business conditions; dan quantitative yang terdiri dari 3 aspek, management, industrial prospects, dan lainnya.
  • Proses ESRM sama dengan proses risk management pada umumnya. Dalam membangun strategi, objectives dan visi misi bank harus sejalan dengan objectives keberlanjutan. ESRM akan menjadi bagian dari profil risiko bank yang akan dinilai oleh OJK dalam menentukan tingkat kesehatan bank.
2. Overview Laporan Keberlanjutan

  • Dimensi keberlanjutan pada bank terdiri dari keberlanjutan keuangan, keberlanjutan ekoomi, keberlanjutuan lingkungan dan keberlanjutan sosial. Keberlanjutan keuangan dari bank dan kliennya dapat berkontribusi bagi pembangunan dalam jangka panjang. Sedangkan keberlanjutan ekonomi dapat dicapai dari proyek dan perusahaan yang didanai oleh bank dengan cara memberika kontribusi kepada daerah sekitar. Selanjutnya, keberlanjutan lingkungan dicapai dengan pelestarian lingkungan hidup. Dan keberlanjutan sosial dicapai dengan meningkatkan standar hidup masyarakat sekitar, pengentasan kemiskinan, kepedulian terhadap kesejahteraan komunitas, dan menghormati hak asasi manusia. 
  • Komponen keberlanjutan pada bank terdiri dari 2 hal, yaitu pengelolaan risiko sosial dan lingkungan dalam pemberian kredit, dan identifikasi peluang untuk menciptakan produk inovatif terkait keberlanjutan. Dalam pengelolaan risiko sosial dan lingkungan bank harus memfokuskan diri untuk berinvestasi pada proyek yang memiliki kinerja lingkungan, sosial, dan ekonomi yang tinggi. Sedangkan identifikasi peluang mencakup pengembangan produk atau jasa yang mendukung aktivitas yang menguntungkan bagi sosial dan lingkungan.
  • Bank akan mendapatkan keuntungan dari penerapan keberlanjutan, yaitu imbal hasil jangka panjang yang lebih besar, mengurangi risiko, pengembangan bisnis baru, meningkatkan pangsa pasar pada proyek berkelanjutan, dan meningkatkan reputasi.
  • Laporan keberlanjutan (SR) merupakan salah satu cara perusahaan (bank) untuk melaksanakan akuntabilitas melalui penerbitan laporan. Dalam menyiapkan SR, perusahaan harus mengakomodasi kepentingan para stakeholder agar SR yang diterbitkan dapat memberikan nilai tambah bagi stakeholder. Perusahaan dapat mengungkapkan SR sebagai bagian dari annual report, laporan tersendiri, press-release, buletin pegawai, dan website perusahaan.
  • Panduan terkait pembuatan SR banyak tersedia. Framework SR internasional contohnya, UN Global Compact, dan Global Reporting Standard (GRI). GRI ini merupakan standar yang paling banyak digunakan. Sedangkan di Indonesia sudah diatur dalam POJK No. 51/POJK.03/2017 Tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Panduannya saat ini masih berbentuk draft. 
3. Innovative and Participatory Teaching for Adult

  • Kemampuan berkomunikasi berarti mampu memberikan informasi dengan baik dan juga mampu menerima informasi.
  • Proses komunikasi efektif melibatkan sender dan receiver. Proses ini terjadi apabila terjadi pertukaran pemahaman persepsi dari apa yang dikatakan, apa yang dimaksudkan dan emosi yang ditimbulkannya.
  • Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Perbedaan persepsi setiap orang dipengaruhi beberapa hal seperti latar belakang, pengalaman, nilai-nilai, personality, pengetahuan, dan fakta. Persepsi merupakan cara saya dalam melihat/ menafsirkan segala sesuatu melalui pikiran dan batin saya yang mengarahkan pola pikir dan perilaku saya. Persepsi tidaklah sama dengan realita. Sehingga setiap individu berbeda dan memiliki keunikan masing-masing. 
  • Talenta merupakan suatu pola pikir, perasaan dan perilaku yang berulang dan konsisten, yang muncul secara spontan.
  • Secara umum, keunikan masing-masing individu terbagi menjadi 4 tipe, yaitu aktifis, reflektor, teoris, dan pragmatis. Tipe aktifis berpikiran terbuka dan fleksibel, optimis dan berani terhadap perubahan, serta suka tatangan dan sesuatu yang baru. Namun, tipe ini bertindak tanpa pikir panjang, cepat bosan dan tidak takut risiko, serta kurang memperhatikan hal-hal kecil. Tipe reflektor merupakan individu yang hati-hati dan penuh pertimbangan, mendengarkan dan mengamati, serta mendalam. Namun tipe ini terlalu hati-hati, kurang tegas, dan menghindari keterlibatan. Tipe teoris memiliki sifat disiplin dan logis, rasional dan objektif, dan pandai bertanya. Namun, tipe ini perfeksionis, segalanya harus jelas, dan tidak suka tugas yang tidak beraturan. Sedangkan tipe pragmatis memiliki sifat yang praktis dan realistis, langsung ke pokok persoalan, dan suka langsung menerapkan. Namun tipe ini kurang sabar, berorientasi pada hasil, dan bertahan pada solusi yang berhasil.
  • Fasilitator merupakan seseorang yang berperan membantu pesera agar mereka terlepas dari kendala internal atau kesulitan yang mereka alami, agar mereka leboh efektif dan efisien. Fasilitator berperan dalam membuat peserta mau dan mampu mengungkapkan pendapatnya secara sukarela, memastikan diskusi/dialog tetap fokus pada tujuan, memberi masukan bila diminta dan tidak memaksakan pendapatnya, serta menjaga suasana tetap kondusif dan dinamis.
  • Dalam melakukan fasilitasi, fasilitator harus memliki beberapa asumsi dasar. Asumsi tersebut adalah keterampilan komunikasi, setiap individu adalah unik, keunikan menyebabkan perbedaan persepsi, proses pembelajaran setiap individu berbeda sesuai keunikannya masing-masing, setiap orang mampu dan mau memilih hal yang benar, setiap orang mempunyai pendapat/pandangan yang harus dihargai dan tidak dibedakan, seseorang akan lebih komit dengan keputusan sendiri, keputusan bersama lebih baik dari keputusan sendiri, dan setiap tim mampu secara mandiri mengatasi permasalahan mereka jika diberikan kesempatan dan cara yang tepat. 
  • Dalam melakukan fasilitasi penting untuk membangun suasana kondusif, membimbing tanpa mendominasi, dan membantu peserta menemu-kenali(self-discover) hal-hal baru dan solusi dari suatu masalah.
  • Fasilitasi bertujuan untuk menciptakan suasana keterbukaan dan kebersamaan, dapat memahami suatu permasalahan lebih dalam, menciptakan suasana saling mengerti, menciptakan rasa memiliki atas permasalahan dan solusinya, serta menciptakan komitmen terhadap keputusan yang telah diambil.  
  • Keterampilan verbal yang dibutuhkan dalam melakukan fasilitasi yaitu teknik vocal, teknik bertanya, teknik menggali, teknik mengarahkan kembali, dan teknik memotivasi keterlibatan. Sedangkan keterampilan non-verbal adalah teknik mendengar efektif, teknik bahasa tubuh, dan cara berpenampilan.

Hari Ketiga

​1. Micro-Teaching

Pada hari kedua dilakukan micro teaching untuk setiap peserta training. micro teaching dilakukan agar peserta dapat melihat potensi mereka dalam memaparkan materi sebagai trainer.

2. Review Micro-Teaching​​

​​