Kesenjangan Turunkan Peringkat Indonesia

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia turun dari peringkat ke-110 ke peringkat ke-113 dari 188 negara. Penurunan ini terutama karena kesenjangan atau ketimpangan pembangunan Indonesia yang masih lebar.

Dengan peringkat itu, Indonesia masih stagnan dalam kelompok negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menengah. Di bawah Indonesia antara lain Palestina (114), Vietnam (115), dan Filipina (116). Tetangga terdekat Indonesia, Malaysia, masuk kategori tinggi, yaitu peringkat ke-59.

Menurut Laporan Pembangunan Manusia Tahun 2016 yang dikeluarkan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), pembangunan manusia dalam 5 tahun terakhir (1990 – 2015) maju pesat. Indonesia pun mengalami peningkatan yang signifikan. "Namun, pencapaiannya belum memberikan manfaat bagi semua orang," kata Direktur UNDP Indonesia Christophe Bahuet dalam pengumuman Laporan Pembangunan Manusia 2016 bertajuk "Pembangunan Manusia untuk Semua", Rabu (22/3), di Jakarta.

Di Indonesia, katanya, pendapatan nasional bruto meningkat 135,4 persen; angka harapan hidup naik 5,8 tahun; lama bersekolah rata-rata 4,6 tahun; dan harapan lama bersekolah meningkat 2,8 tahun.

Ditingkatkan

Christophe menilai, mengatasi kesenjangan sudah jadi komitmen Pemerintah Indonesia. Namun, Indonesia harus terus berupaya meningkatkan IPM dari kelompok menengah ke kelompok tinggi. Nilai IPM Indonesia pada 2015 sebesar 0,689. Namun, dengan memperhitungkan faktor kesenjangan, nilainya turun menjadi 0,563 atau berkurang 18,2 persen. Kondisi kesenjangan Indonesia masih lebih baik daripada rata-rata negara di Asia Pasifik yang turun 19,3 persen.

Penasihat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan UNDP Indonesia Ansye Sopacua mengatakan, kesenjangan pembangunan di Indonesia bisa dilihat dari ketidaksetaraan jender. IPM untuk laki-laki Indonesia 0,712, sedangkan perempuan 0,660. Harapan hidup saat lahir untuk perempuan 71,2 tahu, sedangkan laki-laki 67 tahun. Lama bersekolah perempuan rata-rata 7,4 tahun dan pendapatan nasional bruto per kapita 6.668 dollar AS (setara Rp. 88,73 juta dengan nilai tukar RP. 13.308). Adapun laki-laki rata-rata lama bersekolah 8,5 tahun dan pendapatan nasional bruto per kapita 13.391 dollar AS (setara Rp. 178,20 juta).

Meski posisi IPM Indonesia di atas Filipina, indeks kesetaraan jender lebih rendah. Rasio kematian ibu di Indonesia adalah 126. Sekitar 42,9 persen perempuan sedikitnya berpendidikan menengah. Untuk laki-laki 51,7 persen. Dalam tiga indicator yang sama, Filipina lebih baik.

Ansye menambahkan, kebijakan publik sudah mengakomodasi kesetaraan jender, tetapi implementasinya belum sesuai. Sebagai contoh, kuota perempuan di parlemen 30 persen belum terpenuhi. "Ketidaksetaraan dalam hal jender, kota-desa masih ada dan ini harus diatasi secara serius. Pembangunan manusia untuk semua bisa dicapai lewat komitmen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan," ujarnya.

Selain itu, katanya, sekitar 140 juta orang masih hidup dengan penghasilan kurang dari Rp. 20.000 per hari. Sebanyak 19,4 juta orang menderita gizi buruk. Terkait kesehatan, ada 2 juta anak di bawah usia satu tahun yang belum menerima imunisasi lengkap dan angka kematian ibu masih 305 per 100.000 kelahiran hidup. Untuk akses ke layanan dasar, hampir 5 juta anak tidak bersekolah.

Kelompok yang mesti diperhatikan agar tidak tertinggal adalah orang miskin dan yang termarjinalkan.

Berita Terkait Lain