Bencana Longsor dan Banjir Bukan Semata Peristiwa Alami!

Bencana-bencana yang belakangan kian kerap menerpa berbagai daerah Tanah Air merupakan akibat dari kerusakan alam yang disebabkan tangan-tangan manusia. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Human BNPB Sutopo Purwo Nugroho "bencana banjir dan longsor merupakan akumulasi proses kerusakan lingkungan yang berlangsung lama". Ia menuturkan, terdapat 24,3 juta hektare (ha) lahan kritis di Indonesia. Berdasarkan data yang ada, laju degradasi hutan rata-rata 750 ribu ha sampai 1 juta ha per tahun. Sementara kemampuan memperbaikinya hanya 250 ribu ha per tahun. diperlukan puluhan tahun untuk memperbaikinya. Laju degradasi lingkungan jauh lebih cepat dari upaya pemulihan. Sutopo menjelaskan, kerusakan hutan dipengaruhi sejumlah hal. Diantaranya:

  1. Peningkatan kebutuhan lahan yang baik untuk pertanian serta pertumbuhan industri ataupun permukiman di lokasi itu yang tidak diimbangi peraturan tata ruang yang berbasis bencana;
  2. Perilaku masyarakat yang belum meperhatikan lingkungan, seperti membuang sampah ke sungai dan penebangan liar;
  3. pemanasan global, perubahan iklim, dan cuaca ekstrim telah memperparah dampak bencana;
  4. kemampuan mitigasi bencana secara umum masih belum memadai.

Data BNPN menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang terpapar langsung oleh bahaya longsor sedang hingga tinggi sebanyak 40,9 juta jiwa, diantaranya terdapat 4,28 juta jiwa balita, sebanyak 3,2 juta jiwa lansia juga terancam keselamatannya oleh bencana longsor, 386 ribu jiwa diantaranya dalam bahaya tinggi dan 2,8 juta jiwa lansia dalam bahaya sedang. beberapa wilayah di Indonesia yang rawan longsor tersebar di sepanjang bukit barisan di Sumatra, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Sorotan terhadap bencana longsor kembali mengemuka selepas terjadinya bencana longsor di Desa Banaran, Ponorogo, Jawa Timur Sabtu (1/4) lalu. Akibat bencana tersebut, sebanyak 32 rumah terkubur dan 28 warga hilang. Dari warga yang hilang, sejauh ini baru tiga orang yang diemukan dalam keadaan meninggal.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo memperluas zona pencarian dan evaluasi korban pada Kamis (6/4). Kepala biro BPBD Ponorogo, Sumandi, di Desa Banaran menjelaskan, zona baru bukan diproyeksikan sebagai lokasi baru pencarian korban longosr, melainkan lebih dimaksudkan untuk membedah tumpukan timbunan tanah yang sempat tersendat disektor C.

Sejak hari pertama pencarian korbat pada ahad (2/4), operasi SAR di tiga sektor yang telah ditetapkan sebelumya selalu dihentikan menjelang sore akibat hujan deras. Kondisi memburuk sejak dua hari terakhir karena intensitas curah hujan tinggi sehingga memicu longsor kecil di sektor A.

Potensi bencana susulan tidak hanya longsor yang masih mungkin terjadi di sekitar lereng Gunung Gede, yang dilaporkan terdapat rekahan memanjang kanan-kiri dari titik longsor utama.

yang lebih membahayakan penduduk dan tim relawan saat ini adalah ancaman banjir bandang. sebab, hujan dari arah puncak hingga pemukiman telah menyebabkan material lumpur longsoran sepanjang 1,5 kilometer sehingga menjadi lembek dan jenuh air.

Sumber: Koran Republika, Jumat 7 April 2017

Berita Terkait Lain